Apr 24 2009
JID Vol 3 No. 1, 2008

CONSILIENCE: PARADIGMA BARU DALAM PENDIDIKAN TINGGI SENI DAN DESAIN 
Imam Buchori Zainuddin
Ringkasan:
Artikel ini menegaskan bahwa pendidikan tinggi harus mempertemukan pengetahuan (consilience). Pendidikan yang berbasis engineering perlu dibekali dengan pengetahuan estetika dan kemanusiaan. Sedangkan pendidikan seni harus dapat memanfaatkan kemajuan sains secara luas. Hal ini dibuktikan dengan mengamati perkembangan estetika dalam hubungannya dengan konsep kebenaran yang harus diacu oleh perguruan tinggi, di mana fungsi seni dapat dipahami secara dua arah: (1) sebagai pengalaman estetik dan (2) penyeimbang rasionalitas sains-teknologi. Oleh karenanya, Institut Teknologi Bandung, khususnya bidang seni rupa dan desain yang terbangun berdasarkan konsep universiter harus melandasi civitas academica-nya dengan pemahaman yang menyeluruh antara sains, teknologi, estetika dan humaniora. Apalagi body of knowledge industri kreatif sesungguhnya merupakan penyatuan berbagai keilmuan di perguruan tinggi.
Kata Kunci: Pendidikan Tinggi, Seni Rupa, Desain, Sains, Teknologi.
SARANA BERMAIN EDUKATIF UNTUK ANAK DISLEKSIA 
Novi Z. Rahman, Dudy Wiyancoko
Ringkasan:
Artikel ini merupakan catatan hasil pengembangan desain sarana bantu membaca untuk anak disleksia. Disleksia adalah permasalahan kesulitan membaca pada anak. Desain sarana bantu yang dikembangkan pada dasarnya merupakan kombinasi alat bermain dan alat bantu untuk mengenalkan huruf melalui bentuk fisik dan konotasi visualnya. Operasional sarana ini bertolak dari metode pembelajaran multisensori: visual, audio kinestetik, dan taktil. Dari berbagai bahan dan media pembelajaran (bantalan, tanah liat, tali, dan tombol) yang diujicobakan, ternyata cara membentuk huruf dengan menekan tombol-tombol merupakan cara yang diminati. Oleh karena itu produk dirancang dengan memanfaatkan bidang yang memuat jajaran tombol/pin untuk ditekan-tekan agar memunculkan bentuk huruf dengan warna tertentu. Kemudian huruf tersebut mampu ditunjang dengan tampilan gambar binatang yang mewakilinya. Observasi dan uji coba produk dilakukan di Sekolah Dasar Khusus Pantara, Jakarta.
Kata Kunci: Disleksia, Permainan Edukatif, Metode Multisensori, Desain Produk.
INTERPRETASI MAKNA INTERIOR KERATON KILEN YOGYAKARTA PERIODE SULTAN HAMENGKU
BUWONO X
Laksmi Kusuma Wardani, Imam Santosa, Pribadi Widodo
Ringkasan:
Riset ini memaparkan keterkaitan antara bentuk dan makna Keraton Kilen Yogyakarta periode Sultan Hamengku Buwono X. Tujuan dari pemaparan ini adalah untuk menguraikan berbagai macam fungsi dan makna keraton tersebut yang tidak hanya fungsi fisik melainkan juga fungsi sosial, kultural dan religi. Secara fisik, interior Keraton Kilen ditata dengan dasar pertimbangan keselarasan antara keindahan visual dan kebutuhan jasmani-rohani. Aneka perabot dan ragam hias, penataan formal maupun berkelompok, pertimbangan spasial, bentuk ruang geometrik sederhana, suasana terbuka dan tertutup, kesemuannya menunjukkan peran, kedudukan dan status kesultanan sebagai sang pengayom. Interior Keraton Kilen merepresentasikan konseprelasikonsep relasi Sultan dengan Tuhan (relasi vertikal), dan Sultan dengan lingkungan sosialnya (relasi horisontal).
Kata Kunci: Keraton Kilen, Ruang Interior, Fungsi, Makna.

KAJIAN VISUAL GAYA HARAJUKU DI INDONESIA MELALUI UNSUR-UNSUR FASHION
Bunga Sari Siregar, Biranul Anas, Achmad Haldani
Ringkasan:
Gaya Harajuku merupakan salah satu gaya jalanan di Jepang yang popularitasnya menyebar ke Indonesia.Kemunculan gaya ini dilandasi semangat pemberontakan terhadap konsumerisme dan konvensionalitas kehidupan masyarakat modern. Penerapan gaya Harajuku di bidang fashion ditandai dengan tampilan busana yang sembarangan, aksesori berlebihan, serta dandanan rambut dan wajah yang di luar batas kewajaran. Artikel ini bertujuan untuk mengidentifikasi sejauh mana pengaruh gaya Harajuku bagi kaum muda penganutnya di Indonesia. Studi yang ditempuh adalah melakukan penyebaran angket kepada responden penganut gaya Harajuku menyangkut motivasi mereka dalam berpenampilan, serta kajian visual berdasarkan unsur-unsur gaya, tata rias, prinsip gaya, dan sebagainya. Hasil studi menunjukkan bahwa penganut gaya Harajuku di Indonesia tidak seekstrim di Jepang. Mereka hanya sebatas meniru tampilan sesuai keterbatasan norma sosial dan daya beli.
Kata Kunci: Fashion, Gaya Jalanan, Unsur Fashion.
DESAIN MOBIL DAN GAYA HIDUP MASYARAKAT KOTA DI INDONESIA
Yannes Martinus Pasaribu
Ringkasan:
Gaya hidup modern masyarakat perkotaan memberi pengaruh besar terhadap karakter desain mobil yang diminati di Indonesia. Dalam rangka mengantisipasi pasar yang selalu menginginkan nilai kebaruan, produsen mobil mengandalkan empat kategori perubahan desain, yaitu: (1) Perubahan minor sebatas perubahan warna, (2) Face lift atau perubahan tampak depan mobil, (3) Perubahan mayor mencakup body mobil, (4) Perubahan varian desain mobil, dan (5) Perubahan total model mobil beserta kemampuan enjiniringnya. Melalui kajian singkat terhadap perkembangan pasar mobil, masyarakat perkotaan Indonesia memiliki karakternya sendiri, yaitu: (1) menginginkan nilai kebaruan hanya pada tampilan mobil, dan (2) cenderung memilih mobil sebagai investasi. Untukitu,pengembangandesainUntuk itu, pengembangan desain mobil di Indonesia harus mampu menawarkan nilai baru. Melalui nilai baru ini, konsumen diajak untuk memiliki harapan baru, melalui fungsi-fungsi produk.
Kata Kunci: Masyarakat Perkotaan, Desain Mobil, Pasar Mobil, Asesori Mobil.
Comments Off