Archive for November, 2006

Nov 09 2006

JID Vol 1 No. 3, 2006

Published by admin under Artikel Isi

cover-web.jpg

A. D. PIROUS
Sejarah Poster Sebagai Alat Propaganda Perjuangan di Indonesia. (Hal. 139 - 158).

Ringkasan adpirous.jpg

Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan sejarah, dengan mengulas peran poster sebagai media propaganda di masa perjuangan revolusi Indonesia 1945-1948. Data-data yang diperoleh di artikel ini merupakan data primer melalui wawancara langsung dengan tokoh-tokoh sejarah seni rupa Indonesia waktu itu, yaitu: Affandi, S. Sudjojono, Surono, dan Srihadi Soedarsono. Dari analisis yang dilakukan, bisa disimpulkan bahwa desain poster perjuangan memiliki dua fungsi penting: (1) Sebagai penyampai pesan bagi masyarakat internasional tentang realitas perjuangan; (2) Sebagai penyampai aspirasi politik masyarakat di dalam negeri. Melalui artikel ini ditunjukkan bahwa bidang seni rupa dan desain memberi peran penting dalam revolusi kemerdekaan Indonesia. Sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan di Indonesia tidak lepas dari peran poster perjuangan oleh para tokoh-tokoh seniman besar yang peduli terhadap nasib bangsanya.

PRIYANTO SUNARTO
Metafora Visual Kartun Editorial Pada Surat Kabar Jakarta 1950-1957. (Hal. 159 - 176).

Ringkasan 5.jpg
Kartun editorial adalah kolom kartun yang muncul secara berkala di halaman yang tetap di suatu surat kabar. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami latar belakang sosial politik dan budaya masyarakat terhadap penampilan visual kartun editorial di masa demokrasi parlementer di Indonesia (1950-1957). Tujuannya untuk memahami bagaimana metafora kartun editorial berelasi dengan situasi politik multi partai dan tingginya kebebasan menyatakan pendapat. Pendekatan yang ditempuh dalam riset ini adalah pendekatan tipologi visual. Melalui penguraian konsep kartun editorial pada masa itu, penelitian juga menganalisis aspek metafora visual dari 344 artifak kartun oleh 7 surat kabar di Jakarta. Dari analisis dapat disimpulkan bahwa metafora visual kartun editorial masa itu disampaikan dengan sikap emotif sangat terbuka dan tajam.

DWINITA LARASATI
Uncovering The Bamboo of Indonesia. (Hal. 177 - 190).

RINGKASAN
Dalam penelitian ini diulas tiga faktor utama yang dapat meningkatkan pendayagunaan bambu, sebagai berikut: kontribusi teknologi maju bagi peningkatan kualitas material bambu; pendaya-gunaan sumber daya manusia (SDM) melalui penerapan teknologi tepat guna; dan inovasi desain bagi produk bambu fungsional yang dapat menjangkau pangsa pasar potensial yang lebih luas. Tinjauan terhadap situasi masa kini mengarah ke analisa faktor perlunya beberapa perubahan dalam metoda penyediaan bahan baku, produksi dan distribusi, dan penggunaan material dan desain produk bambu. Artikel ini adalah bagian pertama dari dua seri artikel. Bagian pertama ini membahas industri bambu di masa lalu dan masa kini; sedangkan bagian keduanya lebih terfokus kepada sebuah kasus desain dan memberikan rekomendasi pemakaian bambu di masa mendatang sebagai salah satu bahan baku produk industri.

ELLYA ZULAIKHA
Diversifikasi Desain untuk Pengembangan Industri Kerajinan Manik-manik Kayu. (Hal. 191 - 202).

Ringkasan15a4.jpg
Industri tasbih dari bahan manik-manik kayu di Kediri adalah industri yang sangat potensial untuk dikembangkan, mengingat jenis kayu yang digunakan seperti Garu, Stigi, Sono, Cendana dan Secang adalah kayu kualitas unggul khas Asia yang telah terbukti keawetan, keunikan tekstur dan kekuatannya. Namun demikian, desain produk yang dihasilkan industri ini cenderung itu-itu saja, hanya menjadi tasbih saja, sehingga tidak ada peningkatan produktivitas dan peningkatan nilai jual produk. Penulis mencoba mendiversifikasi dan mengembangkannya menjadi desain benda pakai sederhana lainnya, misalnya: tas, wadah kayu, dan lain-lain. Awal pengembangan industri ini adalah dengan menggunakan analisis SWOT.Selanjutnya adalah dengan melakukan eksperimentasi karakteristik tiap jenis manik-manik. Berikutnya, dilakukan eksperimen kombinasi manik-manik dengan teknik anyam tertentu, hingga sampai pada pembuatan prototype sebagai acuan pelatihan bagi para pengrajin lokal. Hasil dari pengembangan desain ini bisa meningkatkan daya jual sebesar 150-200% dibanding nilai sebelumnya.

DENY WILLY & G. PRASETYO ADHITAMA
Pemanfaatan Dahan Salak untuk Produk Pelengkap Interior. (Hal. 203 - 212).

Ringkasan 6.jpg

Jatuhnya harga buah salak Manonjaya empat tahun terakhir mendorong masyarakat menebangi 7000 hektar perkebunan rakyat dan menggantinya dengan tanaman lain yang dianggap lebih memiliki nilai ekonomi, seperti: pisang, singkong, talas dan sebagainya. Untuk menghindari ancaman erosi serius dan menjaga pelestarian, maka tim peneliti ini, bekerjasama dengan masyarakat setempat, organisasi kemasyarakatan serta pihak pemerintah terkait melaksanakan suatu penelitian berupa upaya pemanfaatan alternatif dahan salak. Dahan salak merupakan potensi perkebunan salak yang berlimpah dan belum termanfaatkan secara optimal. Kegiatan ini sekaligus bertujuan untuk merintis pembentukan wirausaha baru di Tasikmalaya, Jawa Barat. Kini telah telah terbentuk satu usaha inti yang menyerap lebih dari 50 orang penduduk sebagai pemasok bahan baku bilah dahan salak. Kegiatan penelitian ini juga sekaligus menyadarkan masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian perkebunan. Saat ini, produk kerajinan bilah dahan salak mulai berdampak terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Comments Off