<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/2.3.2" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>JURNAL ILMU DESAIN</title>
	<link>http://jurnaldesain.fsrd.itb.ac.id</link>
	<description>Fakultas Seni Rupa dan Desain - Institut Teknologi Bandung</description>
	<pubDate>Thu, 07 May 2009 10:13:30 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.3.2</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>JID Vol 3 No. 2, 2008</title>
		<link>http://jurnaldesain.fsrd.itb.ac.id/?p=79</link>
		<comments>http://jurnaldesain.fsrd.itb.ac.id/?p=79#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Apr 2009 06:37:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel Isi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indo.jurnaldesain-itb.com/?p=79</guid>
		<description><![CDATA[
UNSUR-UNSUR PEMANDU DALAM ARTEFAK TRADISIONAL
Ahadiat joedawinata.
Ringkasan:
Artikel ini membahas tentang produk artefak dan unsur-unsur yang mempengaruhi bentuknya. Yang menjadi studi kasus adalah artefak peralatan, jenis wadah-wadahan di masyarakat Cirebon. Artefak peralatan bukanlah hasil karya desainer tetapi merupakan karya masyarakatnya sendiri untuk digunakan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Unsur-unsur pemandu bentuk artefak adalah: (a) kondisi geografis dan ekologis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jurnaldesain-itb.com/uploads/Cover-JID3-2.jpg" alt="" width="218" height="310" /></p>
<p><strong>UNSUR-UNSUR PEMANDU DALAM ARTEFAK TRADISIONAL</strong><img class="alignright" style="float: right;" src="http://jurnaldesain-itb.com/uploads/321.jpg" alt="" width="185" height="187" /><br />
<em>Ahadiat joedawinata</em>.<br />
<strong>Ringkasan:</strong><br />
Artikel ini membahas tentang produk artefak dan unsur-unsur yang mempengaruhi bentuknya. Yang menjadi studi kasus adalah artefak peralatan, jenis wadah-wadahan di masyarakat Cirebon. Artefak peralatan bukanlah hasil karya desainer tetapi merupakan karya masyarakatnya sendiri untuk digunakan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Unsur-unsur pemandu bentuk artefak adalah: (a) kondisi geografis dan ekologis kawasan; (b) ketersediaan material dasar beserta sifatnya; (c) aktivitas manusia yang terkait dengan pemenuhan fungsi praktis kehidupannya, dan; (d) peristiwa sosial, adat dan kebiasaan masyarakat. Melalui unsur ini, dianalisis berbagai jenis dan cara penggunaan artefak anyaman Cirebon, misalnya: ayakan, boboko, nyiru, dan karanjang sasag. Hasil analisis menunjukkan bahwa kehadiran artefak merupakan hasil interaksi antar unsur pemandu dan terkait dengan peran tubuh manusia dalam proses membuat, membawa serta menggunakannya.<br />
<strong>Kata Kunci:</strong> <em>Produk Artefak, Wadah, Anyaman, Unsur Pemandu Bentuk.</em></p>
<p><img class="alignright" style="float: right;" src="http://jurnaldesain-itb.com/uploads/322.jpg" alt="" width="200" /></p>
<p><strong>EFEK KETINGGIAN PERMUKAAN DUDUK TERHADAP BEBAN KERJA DALAM POSISI KERJA JONGKOK</strong><br />
<em>Andar Bagus Sriwarno</em>.<br />
<strong>Ringkasan:</strong><br />
Posisi kerja dalam postur jongkok, yang sering dijumpai di masyarakat negara berkembang, kerap menimbulkan gangguan kesehatan terutama masalah otot (<em>musculosceletal problems</em>) dan rasa ketidaknyamanan. Hasil identifikasi lapangan menunjukkan bahwa masalah ketinggian duduk yang tidak optimal memberi kontribusi meningkatkan keluhan nyeri pinggang akibat posisi duduk yang kurang tepat. Dalam penelitian ini dilakukan serangkaian uji coba terhadap 14 pria dewasa melalui beberapa metoda pengukuran. Desain sarana duduk yang diujicobakan adalah sebuah model dingklik dengan ketinggian yang berbeda. Ketinggian duduk antara 15 cm dan 20 cm memberi dampak berkurangnya beban kerja fisik. Hasil studi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap upaya pengembangan desain fasilitas kerja sebagai implementasi kesadaran akan budaya keselamatan dan kesehatan kerja (K3) lingkungan industri terutama sektor usaha kecil.</p>
<p><strong>Kata Kunci:</strong> <em>Postur Jongkok, Ketinggian Duduk, Elektromiografi, Kinematika</em>.</p>
<p><img class="alignright" style="float: right;" src="http://jurnaldesain-itb.com/uploads/323.jpg" alt="" width="200" height="200" /></p>
<p><strong>PEMANFAATAN CANGKANG KERANG HIJAU UNTUK PENGEMBANGAN PRODUK </strong><br />
<em>Mochamad Junaidi Hidayat, Widiharjo, Dudy Wiyancoko</em>.<br />
<strong>Ringkasan:</strong><br />
Kerang adalah salah satu material yang sering digunakan sebagai bahan kerajinan. Penggunaan kerang bukan budidaya mengakibatkan eksploitasi terhadap ekosistem laut yang bisa mengakibatkan ancaman bagi keberlangsungan ekosistem laut. Penelitian ini merupakan penelitian karya (<em>research by project</em>) melalui eksperimentasi material dan proses untuk mencari alternatif pengembangan produk berbahan sisa cangkang kerang hijau. Hasil ekperimentasi digunakan untuk pengembangan produk pakai dengan fungsi sederhana, seperti penutup lampu, wadah saji, pelapis permukaan mebel, dan sebagainya. Secara garis besar penelitian ini dibagi menjadi 2 (dua) bagian besar yakni: (1) proses eksperimentasi melalui pemotongan, dan (2) melalui sisa proses pemotongan. Hasil ini dapat dijadikan acuan diversifikasi, melalui workshop desain, bagi industri kecil-menengah di bidang kerajinan kerang berbasis industri kecil menengah (IKM).</p>
<p><strong>Kata Kunci: </strong><em>Kerang Hijau, Pengembangan Produk, Ekperimentasi Produk.</em></p>
<p><img style="float: right;" src="http://jurnaldesain-itb.com/uploads/324.jpg" alt="" width="200" height="94" /></p>
<p><strong>INDIKASI SICK BUILDING SYNDROME (SBS) PADA DESAIN DAPUR  RUMAH SEDERHANA SEHAT (RSH)</strong><br />
<em>Ajeng Puranti Dewi, Dwinita Larasati, G. Prasetyo Adhitama</em>.<br />
<strong>Ringkasan:</strong><br />
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi kesehatan dapur di Rumah Sederhana Sehat (RSH) di Indonesia. Ketidaklayakan kondisi kesehatan dapur akan mengakibatkan berbagai keluhan bagi penghuni rumah yang disebut sebagai <em>sick building syndrome (</em>SBS). Sebagai objek studi dikaji delapan kasus desain dapur di RSH di dua wilayah yakni Wilayah Duren Sawit Jakarta Timur dan Wilayah Cidadap Kota Bandung. Untuk membandingkan tingkat kelayakan kesehatan keduanya digunakan metode DCBA. Metode ini menawarkan parameter dan uraian penilaian yang terkait dengan (a) komunitas (b) lingkungan tempat tinggal c) rumah  d) sistem interior dan e) dapur. Hasil dari studi menunjukkan bahwa desain dapur di kedua wilayah tersebut mengalami pencemaran udara akibat berbagai unsur polutan. Penghuni mengalami gejala SBS polutan yang berasal dari kegiatan memasak penggunaan material dan finishing di dapur dan penyebab lainnya.<br />
<strong>Kata Kunci:</strong> <em>Sick Building Syndrome (SBS) Desain Dapur, Metode DCBA.</em></p>
<p><img class="alignright" style="float: right;" src="http://jurnaldesain-itb.com/uploads/325.jpg" alt="" width="172" height="152" /></p>
<p><strong>TINJAUAN KRITERIA INTERIOR RUMAH BERWAWASAN LINGKUNGAN</strong><br />
<em>Donny Mulya Prijatna, Deny Willy</em>.<br />
<strong>Ringkasan:</strong><br />
Upaya rancang bangun berwawasan lingkungan ber¬kelanjutan, termasuk pula perancangan interior hunian rumah tinggal terus menerus dilakukan. Penelitian ini mencari kriteria terhadap penilaian interior hunian rumah tinggal berwawasan lingkungan dengan memodifikasi metode LEED (<em>Leadership in Energy and Environmental Design</em>) yang disesuaikan dengan kondisi perilaku pengguna serta hunian rumah tinggal di Indonesia. Metode LEED modifikasi tersebut sekaligus diujikan untuk menilai dua obyek rumah tinggal yang: (a) dirancang dengan kesadaran dan pemahaman terhadap kriteria berkelanjutan dan (b) interior rumah tinggal sederhana yang lazim di sekitar kita. Darihasilanalisisditunjuk-Dari hasil analisis ditunjuk¬kan bahwa metode ini bermanfaat untuk menilai kadar keberkelanjutan (sustainability) suatu interior rumah tinggal.<br />
<strong>Kata Kunci:</strong> <em>Desain Keberlanjutan, Metode LEED, Manusia dan Lingkungan Interior, Rumah Tinggal</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnaldesain.fsrd.itb.ac.id/?feed=rss2&amp;p=79</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>JID Vol 3 No. 1, 2008</title>
		<link>http://jurnaldesain.fsrd.itb.ac.id/?p=78</link>
		<comments>http://jurnaldesain.fsrd.itb.ac.id/?p=78#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Apr 2009 05:42:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel Isi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indo.jurnaldesain-itb.com/?p=78</guid>
		<description><![CDATA[
CONSILIENCE: PARADIGMA BARU DALAM PENDIDIKAN TINGGI SENI DAN DESAIN 
Imam Buchori Zainuddin
Ringkasan:
Artikel ini menegaskan bahwa pendidikan tinggi harus mempertemukan pengetahuan (consilience). Pendidikan yang berbasis engineering perlu dibekali dengan pengetahuan estetika dan kemanusiaan. Sedangkan pendidikan seni harus dapat memanfaatkan kemajuan sains secara luas. Hal ini dibuktikan dengan mengamati perkembangan estetika dalam hubungannya dengan konsep kebenaran yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jurnaldesain-itb.com/uploads/Cover-JID3-1.jpg" alt="" width="208" height="295" /></p>
<p><strong><em>CONSILIENCE:</em> PARADIGMA BARU DALAM PENDIDIKAN TINGGI SENI DAN DESAIN </strong><img class="alignright" style="float: right;" src="http://jurnaldesain-itb.com/uploads/311.jpg" alt="" width="200" height="263" /></p>
<p><em>Imam Buchori Zainuddin</em></p>
<p><strong>Ringkasan:</strong><br />
Artikel ini menegaskan bahwa pendidikan tinggi harus mempertemukan pengetahuan (<em>consilience</em>). Pendidikan yang berbasis engineering perlu dibekali dengan pengetahuan estetika dan kemanusiaan. Sedangkan pendidikan seni harus dapat memanfaatkan kemajuan sains secara luas. Hal ini dibuktikan dengan mengamati perkembangan estetika dalam hubungannya dengan konsep kebenaran yang harus diacu oleh perguruan tinggi, di mana fungsi seni dapat dipahami secara dua arah: (1) sebagai pengalaman estetik dan (2) penyeimbang rasionalitas sains-teknologi. Oleh karenanya, Institut Teknologi Bandung, khususnya bidang seni rupa dan desain yang terbangun berdasarkan konsep universiter harus melandasi civitas academica-nya dengan pemahaman yang menyeluruh antara sains, teknologi, estetika dan humaniora. Apalagi <em>body of knowledge </em>industri kreatif sesungguhnya merupakan penyatuan berbagai keilmuan di perguruan tinggi.<br />
<strong>Kata Kunci:</strong> <em>Pendidikan Tinggi, Seni Rupa, Desain, Sains, Teknologi.</em></p>
<p><strong>SARANA BERMAIN EDUKATIF UNTUK ANAK DISLEKSIA</strong> <img class="alignright" style="float: right;" src="http://jurnaldesain-itb.com/uploads/312.jpg" alt="" width="258" height="94" /><br />
<em> Novi Z. Rahman, Dudy Wiyancoko</em><br />
<strong> Ringkasan:</strong><br />
Artikel ini merupakan catatan hasil pengembangan desain sarana bantu membaca untuk anak disleksia. Disleksia adalah permasalahan kesulitan membaca pada anak. Desain sarana bantu yang dikembangkan pada dasarnya merupakan kombinasi alat bermain dan alat bantu untuk mengenalkan huruf melalui bentuk fisik dan konotasi visualnya. Operasional sarana ini bertolak dari metode pembelajaran multisensori: visual, audio kinestetik, dan taktil. Dari berbagai bahan dan media pembelajaran (bantalan, tanah liat, tali, dan tombol) yang diujicobakan, ternyata cara membentuk huruf dengan menekan tombol-tombol merupakan cara yang diminati. Oleh karena itu produk dirancang dengan memanfaatkan bidang yang memuat jajaran tombol/pin untuk ditekan-tekan agar memunculkan bentuk huruf dengan warna tertentu. Kemudian huruf tersebut mampu ditunjang dengan tampilan gambar binatang yang mewakilinya. Observasi dan uji coba produk dilakukan di Sekolah Dasar Khusus Pantara, Jakarta.<br />
<strong>Kata Kunci:</strong> <em>Disleksia, Permainan Edukatif, Metode Multisensori, Desain Produk.</em></p>
<p><strong>INTERPRETASI MAKNA INTERIOR KERATON KILEN YOGYAKARTA PERIODE SULTAN HAMENGKU </strong><img class="alignright" style="float: right;" src="http://jurnaldesain-itb.com/uploads/314.jpg" alt="" width="200" /><strong>BUWONO X</strong><br />
<em> Laksmi Kusuma Wardani, Imam Santosa, Pribadi Widodo</em></p>
<p><strong>Ringkasan:</strong><br />
Riset ini memaparkan keterkaitan antara bentuk dan makna Keraton Kilen Yogyakarta periode Sultan Hamengku Buwono X. Tujuan dari pemaparan ini adalah untuk menguraikan berbagai macam fungsi dan makna keraton tersebut yang tidak hanya fungsi fisik melainkan juga fungsi sosial, kultural dan religi. Secara fisik, interior Keraton Kilen ditata dengan dasar pertimbangan keselarasan antara keindahan visual dan kebutuhan jasmani-rohani. Aneka perabot dan ragam hias, penataan formal maupun berkelompok, pertimbangan spasial, bentuk ruang geometrik sederhana, suasana terbuka dan tertutup, kesemuannya menunjukkan peran, kedudukan dan status kesultanan sebagai sang pengayom. Interior Keraton Kilen merepresentasikan konseprelasikonsep relasi Sultan dengan Tuhan (relasi vertikal), dan Sultan dengan lingkungan sosialnya (relasi horisontal).<br />
<strong>Kata Kunci: </strong><em>Keraton Kilen, Ruang Interior, Fungsi, Makna.</em></p>
<p><img class="alignright" style="float: right;" src="http://jurnaldesain-itb.com/uploads/315.jpg" alt="" width="200" /></p>
<p><strong>KAJIAN VISUAL GAYA HARAJUKU DI INDONESIA MELALUI UNSUR-UNSUR <em>FASHION</em></strong><img class="alignright" style="float: right;" src="http://jurnaldesain-itb.com/uploads/313.jpg" alt="" width="200" /><br />
<em> Bunga Sari Siregar, Biranul Anas, Achmad Haldani</em><br />
<strong> Ringkasan:</strong><br />
Gaya Harajuku merupakan salah satu gaya jalanan di Jepang yang popularitasnya menyebar ke Indonesia.Kemunculan gaya ini dilandasi semangat pemberontakan terhadap konsumerisme dan konvensionalitas kehidupan masyarakat modern. Penerapan gaya Harajuku di bidang fashion ditandai dengan tampilan busana yang sembarangan, aksesori berlebihan, serta dandanan rambut dan wajah yang di luar batas kewajaran. Artikel ini bertujuan untuk mengidentifikasi sejauh mana pengaruh gaya Harajuku bagi kaum muda penganutnya di Indonesia. Studi yang ditempuh adalah melakukan penyebaran angket kepada responden penganut gaya Harajuku menyangkut motivasi mereka dalam berpenampilan, serta kajian visual berdasarkan unsur-unsur gaya, tata rias, prinsip gaya, dan sebagainya. Hasil studi menunjukkan bahwa penganut gaya Harajuku di Indonesia tidak seekstrim di Jepang. Mereka hanya sebatas meniru tampilan sesuai keterbatasan norma sosial dan daya beli.</p>
<p><strong>Kata Kunci:</strong> <em>Fashion, Gaya Jalanan, Unsur Fashion.</em></p>
<p><strong>DESAIN MOBIL DAN GAYA HIDUP MASYARAKAT KOTA DI INDONESIA</strong><br />
<em> Yannes Martinus Pasaribu</em></p>
<p><strong>Ringkasan:</strong><br />
Gaya hidup modern masyarakat perkotaan memberi pengaruh besar terhadap karakter desain mobil yang diminati di Indonesia. Dalam rangka mengantisipasi pasar yang selalu menginginkan nilai kebaruan, produsen mobil mengandalkan empat kategori perubahan desain, yaitu: (1) Perubahan minor sebatas perubahan warna, (2) Face lift atau perubahan tampak depan mobil, (3) Perubahan mayor mencakup body mobil, (4) Perubahan varian desain mobil, dan (5) Perubahan total model mobil beserta kemampuan enjiniringnya. Melalui kajian singkat terhadap perkembangan pasar mobil, masyarakat perkotaan Indonesia memiliki karakternya sendiri, yaitu: (1) menginginkan nilai kebaruan hanya pada tampilan mobil, dan (2) cenderung memilih mobil sebagai investasi. Untukitu,pengembangandesainUntuk itu, pengembangan desain mobil di Indonesia harus mampu menawarkan nilai baru. Melalui nilai baru ini, konsumen diajak untuk memiliki harapan baru, melalui fungsi-fungsi produk.<br />
<strong>Kata Kunci:</strong> <em>Masyarakat Perkotaan, Desain Mobil, Pasar Mobil, Asesori Mobil.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnaldesain.fsrd.itb.ac.id/?feed=rss2&amp;p=78</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>JID Vol 2 No. 3, 2007</title>
		<link>http://jurnaldesain.fsrd.itb.ac.id/?p=71</link>
		<comments>http://jurnaldesain.fsrd.itb.ac.id/?p=71#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jul 2008 05:32:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel Isi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indo.jurnaldesain-itb.com/?p=71</guid>
		<description><![CDATA[
YASRAF AMIR PILIANG

PENDEKATAN DALAM PENELITIAN DESAIN: Berbagai Perkembangan Masa Kini
Ringkasan:
Artikel ini menjelaskan tentang epistemologi ilmu desain, obyek penelitian dan berbagai pendekatan dalam penelitian desain. Berbagai pendekatan berdasarkan sifat obyek kajian adalah: (1) sampling, (2) variabel, (3) pola, (4) model ilmu dan (5) sumber data. Pendekatan model ilmu misalnya, terbagi lagi menjadi pendekatan: ilmu pengetahuan (science), [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-76" title="cover-jid-2-3-web" src="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/07/cover-jid-2-3-web.jpg" alt="" width="219" height="308" /></p>
<p><strong>YASRAF AMIR PILIANG</strong></p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-72 alignright" style="float: right;" title="yasraf-web" src="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/07/yasraf-web.jpg" alt="" width="178" height="83" /></p>
<p><em>PENDEKATAN DALAM PENELITIAN DESAIN: </em><em>Berbagai Perkembangan Masa Kini</em></p>
<p><strong>Ringkasan:</strong></p>
<p align="justify">Artikel ini menjelaskan tentang epistemologi ilmu desain, obyek penelitian dan berbagai pendekatan dalam penelitian desain. Berbagai pendekatan berdasarkan sifat obyek kajian adalah: (1) sampling, (2) variabel, (3) pola, (4) model ilmu dan (5) sumber data. Pendekatan model ilmu misalnya, terbagi lagi menjadi pendekatan: ilmu pengetahuan (science), ilmu kemanusiaan (semiotika, sejarah, filsafat, psikologi, dll.), estetika. Sedangkan pendekatan bertolak dari sumber data adalah pendekatan pada: subyek, obyek, pengguna, dan masyarakatnya. Masing-masing pendekatan ini memiliki metodenya sendiri. Misalnya, metode dalam pendekatan filsafat (fenomenologi, hermeneutika, dll), pendekatan semiotika (metode analisis teks, semantic differential, dll.) dan pendekatan sosiologi (metode etnografi, behaviorisme, dll.). melalui penelitian desain, jenis pengetahuan yang dihasilkan adalah pengetahuan tentang: (a) obyek, (b) praktek, (c) proses dan (d) teori desain.</p>
<p><strong>Kata Kunci:</strong> <em>Ilmu Desain, Penelitian Desain, Pendekatan Penelitian</em></p>
<p><strong>DEDDY WAHYUDI</strong></p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-73 alignright" style="float: right;" title="deddyw" src="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/07/deddyw.jpg" alt="" width="192" height="142" /></p>
<p><em>SPATIAL STRUCTURE AND MEANING OF JAVANESE LIVING ENVIRONMENT</em></p>
<p><strong>Ringkasan:</strong></p>
<p style="text-align: left;">Riset ini mengkaji karakteristik ruang hunian masyarakat Jawa. Dua area menjadi lokasi studi, yakni di Jeron Beteng dan Kota Gede, Propinsi Yogyakarta. Dalam kajian ini, lingkungan hunian dipahami sebagai produk kebudayaan, yang kajiannya bisa terurai melalui aspek: pola penataan, struktur rumah hunian, batas wilayah, unsur ruang publik, dan perlengkapan sosial. Hasil kajiannya adalah: (a) perubahan sosio-budaya masyarakat Jawa sangat terkait dengan perubahan konsep ruang hunian; (b) pendopo (bangunan di area masuk) dan amben (bangku depan rumah) masih merupakan sarana penting untuk komunikasi antar warga, dan (c) terdapat kecenderungan untuk menyekat keterbukaan ruang di hunian tradisional Jawa menjadi berbagai ruang fungsional.</p>
<p><strong>Kata Kunci:</strong> <em>Makna Ruang, Rumah Hunian Jawa, Batas Wilayah, Perlengkapan Sosial</em></p>
<p><strong>RISKA SANDIKA, DUDY WIYANCOKO</strong></p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-74 alignright" style="float: right;" title="riska" src="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/07/riska.jpg" alt="" width="170" height="282" /></p>
<p><em>BUDAYA MAKAN DAN DESAIN PERALATAN MAKAN MASYARAKAT TIONGHOA PERKOTAAN</em></p>
<p><strong>Ringkasan:</strong></p>
<p align="justify">Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan tentang keterkaitan antara kebiasaan makan dengan desain peralatan makan maupun nilai-nilai budaya yang dianut oleh masyarakat Tionghoa di Indonesia. Melalui kajian terhadap sejarah Cina perantauan di Glodok-Jakarta dan observasi terhadap kebiasaan hidup masyarakat tersebut, diperoleh suatu kesimpulan bahwa kini terdapat berbagai perubahan budaya makan masyarakat Cina bagi masyarakat Tionghoa di Indonesia. Walaupun kegiatan makan masih dipandang sebagai kegiatan pemersatu keluarga dan rekan bisnis, namun bagi masyarakat Tionghoa kini, kegiatan makan, desain ruang dan peralatan makan telah berkembang sesuai dengan tuntutan kepraktisan, efisiensi ruang, serta nilai budaya masyarakat setempat. Masyarakat tersebut sudah terbiasa menggunakan sendok-garpu-pisau, selain sumpit dalam kesehariannya.</p>
<p><strong>Kata Kunci:</strong> <em>Budaya Makan, Masyarakat Tionghoa, Desain Peralatan Makan</em></p>
<p><strong>ACHMAD SYARIEF, HARUO HIBINO</strong></p>
<p><em>THE CONTRASTS OF BLUE ON DISPLAY-DESIGN</em></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/09/ahmad.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-77" title="ahmad" src="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/09/ahmad.jpg" alt="" width="384" height="457" /></a></p>
<p><em><br />
</em></p>
<p><strong>Ringkasan: </strong></p>
<p align="justify">Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan bahwa penggunaan warna biru pada display ATM dapat meningkatkan efektivitas interaksi antara pengguna dan operasi interface. Hal tersebut menunjukkan bahwa warna memiliki pengaruh signifikan terhadap persepsi pengguna. Penelitian ini mengkaji pengaruh rasio warna kontras terhadap akurasi pembacaan informasi pada display ATM, dengan menggunakan metode analisis feature-search. Hasil analisis menunjukkan bahwa rasio kontras memiliki korelasi signifikan terhadap akurasi (ke-akurat-an) pembacaan informasi pada display ATM. Oleh karenanya dapat disimpulkan bahwa tingkat kontras warna yang digunakan pada layar memiliki pengaruh terhadap efektivitas dan akurasi pembacaan informasi yang tertera pada display ATM.</p>
<p><strong>Kata Kunci:</strong> <em>Contrast Ratio, Correctness Ratio, Desain Interaksi</em></p>
<p><strong>ACHMAD SYARIEF, IMAM DAMAR DJATI</strong></p>
<p><em>ENHANCING CREATIVITY IN A GROUP OF ‘INEXPERIENCED’ DESIGNERS </em></p>
<p><strong>Ringkasan: </strong></p>
<p align="justify">Desainer produk harus memiliki kemampuan kreatif untuk mengevaluasi konteks interaksi user-obyek. Dalam studi ini, diteliti pengaruh aplikasi teknik VPE terhadap kualitas desain dan stimulasi proses kreatif mahasiswa. Diasumsikan bahwa mahasiswa yang menerapkan VPE memiliki kualitas desain dan mendapat stimulasi kreatif yang lebih baik dibanding mahasiswa yang tidak menerapkan VPE dalam proses desainnya. Hasil analisis menunjukkan bahwa VPE secara signifikan dapat meningkatkan kualitas desain dan mendorong stimulasi proses kreatif mahasiswa saat berhadapan dengan permasalahan desain. Namun penggunaannya mesti dipertimbangkan secara hati-hati karena VPE hanya fokus pada aspek visual semata sehingga membatasi pemahaman menyeluruh atas problema obyek desain.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnaldesain.fsrd.itb.ac.id/?feed=rss2&amp;p=71</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>JID Vol 2 No. 2, 2007</title>
		<link>http://jurnaldesain.fsrd.itb.ac.id/?p=29</link>
		<comments>http://jurnaldesain.fsrd.itb.ac.id/?p=29#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Jan 2008 05:49:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel Isi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indo.jurnaldesain-itb.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[
NAOTO SUZUKI
PROBLEMS AND DEVELOPMENT ISSUES FOR ARTISAN CRAFT PROMOTION
The Effective Promotion for Regional Development in Developing Countries (1), (hal 65-78).
Ringkasan:
 
Artikel ini memaparkan tujuan utam a promosi kriya dalam pembangunan daerah, yakni: pengentasan kemiskinan, pelestarian budaya tradisional, dan peningkatan perdagangan negara. Selanjutnya dijelaskan tentang pengembangan kriya tradisional maupun inovatif. Berbagai masalah di tingkat kebijakan, kelembagaan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/01/vol2-2color-cover.jpg" target="_blank" title="vol2-2color-cover.jpg"><img src="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/01/vol2-2color-cover.jpg" alt="vol2-2color-cover.jpg" height="337" width="240" /></a></p>
<p><strong>NAOTO SUZUKI</strong><o:p></o:p></p>
<p><em>PROBLEMS AND DEVELOPMENT ISSUES FOR ARTISAN CRAFT PROMOTION<br />
The Effective Promotion for Regional Development in Developing Countries (1), (hal 65-78).</em><o:p></o:p></p>
<p><strong>Ringkasan:</strong></p>
<p><a href="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/02/suzuki-3.jpg" title="suzuki-3.jpg"><img src="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/02/suzuki-3.thumbnail.jpg" alt="suzuki-3.jpg" align="right" height="136" width="171" /></a> <o:p></o:p></p>
<p style="margin-right: 135pt; text-align: justify">Artikel ini memaparkan tujuan utam a promosi kriya dalam pembangunan daerah, yakni: pengentasan kemiskinan, pelestarian budaya tradisional, dan peningkatan perdagangan negara. Selanjutnya dijelaskan tentang pengembangan kriya tradisional maupun inovatif. Berbagai masalah di tingkat kebijakan, kelembagaan, dan produsen dianalisis, misalnya: lemahnya kebijakan, intervensi pemerintah dalam pengembangan SDM, minimnya fasilitas, kurangnya pengakuan terhadap potensi kriya, rendahnya mutu, lemahnya kerjasama antar produsen, kemampuan manajemen dan desain. Kesemua ini memerlukan penanganan, antara lain: (a) Perumusan kebijakan yang bersih dan visioner; (b) Memperkuat kerja kelembagaan; (c) Mengembangkan pasar; (d) Melestarikan nilai-nilai tradisional.</p>
<p><strong><em>Kata Kunci:</em></strong><em> Kemiskinan, Nilai-nilai tradisional, Kebijakan Tegas, Kelembagaan, Pengembangan Pasar</em><o:p></o:p></p>
<p><strong>NAOTO SUZUKI </strong><o:p></o:p></p>
<p><em>PROBLEMS AND DEVELOPMENT ISSUES FOR ARTISAN CRAFT PROMOTION<br />
The Effective Promotion for Regional Development in Developing Countries (2), (hal 79-94).</em><o:p></o:p></p>
<p><strong>Ringkasan: </strong></p>
<p><a href="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/02/suzuki.jpg" title="suzuki.jpg"><img src="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/02/suzuki.thumbnail.jpg" alt="suzuki.jpg" align="right" height="160" width="169" /></a></p>
<p style="margin-right: 135pt; text-align: justify">Usulan metodologi bagi formulasi pengembangan dan promosi kriya memerlukan kajian cermat. Kajian sentral dalam artikel ini adalah integrasi nilai tradisional terhadap formulasi tersebut. Artikel ini mencermati kebijakan yang diperlukan beserta manfaat <em>master plan</em>. Setelah itu, dikaji berbagai kegunaan lembaga pendukung, termasuk Kawasan Kriya Tradisional. Di tingkat produsen, dianalisis: konsep <em>cluster</em>, Layanan Pengembangan Bisnis oleh <em>retailer </em>internasional dan LSM, serta konsep pengembangan pasar melalui segmentasi pasar dan penetapan brand. Sebagai penutup, artikel ini membahas perlunya kerjasama publik dan swasta dalam implementasi strategi pengembangannya.<o:p></o:p></p>
<p><strong><em>Kata Kunci:</em></strong><em> Studi Master Plan, Kawasan Kriya Tradisional, Pengembangan Cluster, Sistem Layanan Bisnis Terkait, Inisiasi Kerjasama Publik dan Swasta</em><o:p></o:p></p>
<p><strong>VERA UTAMI GEDE PUTRI, ACHMAD HALDANI, RATNA PANGGABEAN</strong><o:p></o:p></p>
<p><em>Ciri Visual Batik Franquemont Semarang (hal. 95-106)</em><o:p></o:p></p>
<p><strong>Ringkasan:</strong></p>
<p><a href="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/02/vera.jpg" title="vera.jpg"><img src="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/02/vera.thumbnail.jpg" alt="vera.jpg" align="right" height="135" width="169" /></a></p>
<p style="margin-right: 135pt; text-align: justify">Sejarah batik di Indonesia mencatat karya Carolina J. von Franquemont dari Semarang, Jawa Tengah, 1845-1867, sebagai batik yang memiliki karakter visual tersendiri dibandingkan batik-batik pesisir lainnya. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik khas tersebut dengan mengkaji 8 jenis Batik Franquemont: (a) Batik Wayang, (b) Batik Poem, (c) Batik Wang Mu, (d) Batik Sarung Prada Emas, (e) Batik Buketan, (f) Batik Belanda, (g) Batik Wallpaper, dan (h) Batik Perang Lombok. Franquemont terkenal dengan penemuan warna &#8220;Hijau Franquemont&#8221; dari zat warna nabati tahan luntur. Selain itu terdapat tiga ciri lain yakni: (1) Motif terinspirasi dari berbagai tema dari budaya Cina, Jawa, dan Belanda; (2) Komposisi batik terbangun dari komposisi asimetri yang padat dan rumit; (3) Pola peletakan motif dengan pola cermin, tidak seperti motif-motif hasil proses printing atau cap.<o:p></o:p></p>
<p><strong><em>Kata Kunci:</em></strong><em> Batik Franquemont, Ciri Visual, Motif</em><o:p></o:p></p>
<p><strong>FERRY DARMAWAN, YASRAF AMIR PILIANG, PRIYANTO SUNARTO</strong><o:p></o:p></p>
<p><em>Pencitraan Pria dalam Iklan Produk untuk Perempuan (hal. 107-116)</em><o:p></o:p></p>
<p><strong>Ringkasan:</strong></p>
<p><a href="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/02/ferry.jpg" title="ferry.jpg"><img src="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/02/ferry.thumbnail.jpg" alt="ferry.jpg" align="right" height="91" width="172" /></a></p>
<p style="margin-right: 135pt; text-align: justify">Dalam perkembangan desain iklan di berbagai media <st1:place w:st="on"><st1:city w:st="on">massa</st1:city></st1:place> kini, pencitraan pria dalam iklan komersil mulai populer. Bahkan sosok pria sudah mulai banyak digunakan untuk desain iklan produk untuk konsumsi perempuan. Dalam riset ini telah dianalisis 6 desain iklan dari berbagai majalah dan tabloid perempuan. Melalui analisis teks dan pendekatan semiotik, diperoleh kesimpulan bahwa citra pria dalam perkembangan desain iklan kini masih didominasi oleh nilai-nilai maskulinitas, yakni citra pria sebagai figur pemberani, gagah berotot, dan hal-hal lain yang terkait dengan figur yang aktif. Namun, konsep maskulinitas kini juga telah berkembang ke nilai-nilai figur pria yang bertanggungjawab dan berkeahlian. Bahkan meluas ke nilai-nilai yang identik dengan feminitas-metroseksual, yakni: penikmat, lembut, peduli terhadap tampilan, dan sebagainya.<o:p></o:p></p>
<p><strong><em>Kata Kunci:</em></strong><em> Citra Pria, Iklan, Maskullinitas, Feminitas.</em><o:p></o:p></p>
<p><strong>SYAIFUDIN, INTAN RIZKY MUTIAZ, YASRAF AMIR PILIANG</strong><o:p></o:p></p>
<p><em>Representasi Visual Desain Web, (hal. 117-124)</em><o:p></o:p></p>
<p><strong>Ringkasan:</strong></p>
<p><a href="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/02/syaifudin.jpg" title="syaifudin.jpg"><img src="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/02/syaifudin.thumbnail.jpg" alt="syaifudin.jpg" align="right" height="121" width="171" /></a></p>
<p style="margin-right: 135pt; text-align: justify">Penelitian ini berupaya memaparkan unsur-unsur visual dalam suatu desain <em>web</em>. Tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa representasi visual (misal:citra, foto dan gambar) dalam halaman <em>web</em> mempunyai kekuatan yang lebih tinggi dibanding representasi verbal (teks) dalam menggerakkan interaksi antara web dan pemirsanya. Melalui kajian literatur dan pengamatan terhadap beberapa contoh desain dibuktikan bahwa representasi visual tersebut dapat dipahami melalui aspek tatapan (<em>gazing</em>), pembingkaian (<em>framing</em>) dan sudut pandang (<em>angle</em>), agar tujuan-tujuan interaksi dapat terpenuhi, misalnya: (1) Tampilan foto atau gambar mata yang menatap akan mampu menyiratkan nilai ekspresi manusia dalam bersosialisasi; (2) pembingkaian atas tampilan atribut-atribut khas pemilik <em>web</em> akan memberikan karakter dan identitas <em>web</em>, dan; (3) penentuan sudut pandang dapat menentukan jauh dekatnya relasi antara penjual, pembeli dan pemirsa.<o:p></o:p></p>
<p><strong><em>Kata Kunci:</em></strong><em> Desain Web, Unsur Visual, Representasi</em><o:p></o:p></p>
<p class="MsoNormal"><o:p> </o:p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnaldesain.fsrd.itb.ac.id/?feed=rss2&amp;p=29</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>JID Vol 2 No. 1, 2007</title>
		<link>http://jurnaldesain.fsrd.itb.ac.id/?p=8</link>
		<comments>http://jurnaldesain.fsrd.itb.ac.id/?p=8#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Apr 2007 02:42:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel Isi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indo.jurnaldesain-itb.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[

DWINITA LARASATI
BAMBOO PRODUCTS DEVELOPMENT USING HYBRID TECHNOLOGY: A Design Research on Bamboo’s Potential. (Hal. 1 - 14).
 
Ringkasan
Artikel ini merupakan artikel kedua dalam penelitian tentang potensi bambu, dan bertujuan memberikan rekomendasi bagi pengembangan bambu sebagai bahan penting untuk produk industri. Penelitian ini mengulas tiga faktor penting untuk pendaya-gunaan bambu: (a) kontribusi teknologi maju bagi peningkatan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><a title="cover.jpg" href="http://indo.jurnaldesain-itb.com/wp-content/uploads/2008/01/cover.jpg" target="_blank"><img src="http://indo.jurnaldesain-itb.com/wp-content/uploads/2008/01/cover.jpg" alt="cover.jpg" width="220" height="312" /></a><em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"><br />
</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">DWINITA LARASATI</span></strong><br />
<em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">BAMBOO PRODUCTS DEVELOPMENT USING HYBRID TECHNOLOGY: A Design Research on Bamboo’s Potential. (Hal. 1 - 14).</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Ringkasan</span></strong><a title="2.jpg" href="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/02/2.jpg"><img src="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/02/2.jpg" alt="2.jpg" width="250" height="130" align="right" /></a><br />
<span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Artikel ini merupakan artikel kedua dalam penelitian tentang potensi bambu, dan bertujuan memberikan rekomendasi bagi pengembangan bambu sebagai bahan penting untuk produk industri. Penelitian ini mengulas tiga faktor penting untuk pendaya-gunaan bambu: (a) kontribusi teknologi maju bagi peningkatan kualitas material bambu; (b) pendaya-gunaan sumber daya manusia (SDM) melalui penerapan teknologi hybrid; dan (c) inovasi desain bagi produk bambu yang dapat menjangkau pasar secara lebih luas. Situasi masa kini memerlukan suatu analisis faktor yang menuntut perubahan dalam metoda penyediaan bahan baku, produksi dan distribusi, dan penggunaan material dan desain produk bambu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">HARI NUGRAHA, DUDY WIYANCOKO, YASRAF AMIR PILIANG</span></strong><br />
<em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Desain Angklung Tradisional dan Modern. </span></em><em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">(Hal. 15 - 30).</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Ringkasan</span></strong><a title="3.jpg" href="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/02/3.jpg"><img src="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/02/3.jpg" alt="3.jpg" width="241" height="197" align="right" /></a><br />
<span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Penelitian ini dibuat dengan dasar pemikiran bahwa angklung merupakan produk budaya milik Indonesia. Tujuannya adalah untuk mencari bentuk dari proses perubahan desain angklung, khususnya yang ada di Jawa Barat. Dengan melakukan kajian komparatif terhadap beberapa jenis angklung berdasarkan periode tertentu dalam masyarakat Sunda, akan diperoleh perubahan karakteristik desain angklung, baik pergeseran makna simbolik, cara memainkan, proses pembuatan, bentuk fisik maupun bentuk pertunjukannya. Studi memaparkan proses perubahan awal (a) desain angklung buhun dari masyarakat Sunda peladang dengan sistem kepercayaan Sunda wiwitan dan Hindu. Selanjutnya adalah perubahan bentuk angklung akibat (b) pengaruh budaya Islam hingga (c) pengaruh oleh pola pikir dan sistem pendidikan musik Barat (Belanda). Dari pengaruh yang ada, desain angklung mengalami beberapa perubahan bentuk dan fungsi. Angklung yang awalnya memiliki fungsi ritual-transenden untuk tujuan rohani spiritual, begeser untuk tujuan pendidikan, pengenalan budaya tradisi melalui pertunjukan dan komersialisasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">RIAMA MASLAN SIHOMBING, YASRAF AMIR PILIANG, A.D. PIROUS</span></strong><br />
<em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Citraan Perempuan di Internet: Kajian Tanda Dan Kode Visual. </span></em><em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">(Hal. 31 - 44).</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Ringkasan</span></strong><a title="31.jpg" href="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/02/31.jpg"><img src="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/02/31.jpg" alt="31.jpg" width="211" height="170" align="right" /></a><br />
<span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Populernya penggunaan internet merubah citraan perempuan, yang sebelumnya sering sebagai obyek pasif, terdominasi, dan bergantung, kini menjadi subyek yang aktif dalam media dan sanggup menentukan citranya sendiri. Penelitian ini untuk membuktikan bahwa fenomena ini benar terjadi melalui kajian<span> </span>terhadap 17 contoh situs yang berkaitan dengan perempuan. Situs tersebut dipilih dan dianalisis kode visualnya. Dalam artikel ini hanya disampaikan 7 kasus yang paling menunjukkan bahwa citraan perempuan di internet kini telah berkembang ke berbagai karakter, yaitu perempuan sebagai figur yang: aktif, bebas dan intelektual. Ketujuh kasus tersebut sebagian besar adalah situs tentang perempuan yang dibuat di Amerika. Kajian ini menggunakan metode semiotik dan analisis visual, yakni dengan memahami tampilan visual situs sebagai sistem tanda.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"> </span></p>
<p align="left"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">HARMEIN KHAGI, VELIX SUTANTO, KUSPRASAPTA MUTIJARSA, BRAM PALGUNADI, OEMAR HANDOJO</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Desain Produk Robot Pencari Korban Bencana Gempa Bumi. </span></em><em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">(Hal. 45 - 56).</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Ringkasan</span></strong><a title="37.jpg" href="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/02/37.jpg"><img src="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/02/37.jpg" alt="37.jpg" width="233" height="200" align="right" /></a><br />
<span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Penelitian didasari pemikiran bahwa peran desain produk dengan memanfaatkan teknologi robotik sangat diperlukan dalam penanganan pasca bencana di Indonesia. Melalui perspektif industrial design, penulis dan tim<span> </span>berupaya mengembangkan desain produk robotik dengan fungsi untuk mencari korban yang terjebak di bawah reruntuhan bangunan di area pasca bencana. Desain produk ini dinamai Viroids, merupakan autonomous mobile robot dengan kemampuan mencari korban. Proses desain<span> </span>dilakukan dengan pendekatan multidisiplin, yakni bidang desain produk, teknik elektro, teknik mesin, dan kepakaran di bidang penanganan pasca bencana. Produk robotik ini dilengkapi fungsi: (a) sistem penggerak dan sensor infra red untuk menghindari tabrakan; (b) kamera CCTV untuk mengenali korban;(c) lampu LEDs, speaker dan microphone untuk komunikasi. Desain Viroids ini diharapkan mampu menjangkau area reruntuhan yang sempit dengan kontur tanah tidak rata dan berpeluang untuk dikembangkan lebih lanjut oleh lembaga-lembaga penelitian dan pengembangan produk industri di Indonesia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"> </span></p>
<p align="left"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">DIAN WIDIAWATI<br />
</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Pemanfaatan Limbah Sabut Kelapa sebagai Bahan Baku Alternatif Tekstil. </span></em><em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">(Hal. 57 - 64).</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Ringkasan</span></strong><a title="11.jpg" href="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/02/11.jpg"><img src="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/02/11.jpg" alt="11.jpg" width="251" height="110" align="right" /></a><br />
<span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Penelitian ini membahas potensi tanaman kelapa sebagai suatu komoditi bernilai tinggi. Selama ini sabut kelapa digunakan sebagai bahan baku pembuatan alat pembersih dan bahan pelapis jok mobil. Melalui eksperimentasi bahan dan karakteristik fisik-visualnya, sabut kelapa ternyata dapat digunakan sebagai bahan baku tekstil alternatif. Ketersedian sabut kelapa sangat berlimpah, terutama di Desa Cibenda Ciamis, dekat Pantai Pangandaran, Jawa Barat. Pada penelitian tahap awal ini dilakukan berbagai cara pengolahan bahan limbah sabut kelapa menjadi bahan baku serat-serat tekstil, yang paling efektif sehingga mudah diterapkan pada masyarakat. Sabut kelapa selama ini masih disebut ‘limbah’ karena  material tersebut merupakan sisa-sisa proses penguraian sabut yang dibuang. Program penelitian selajutnya lebih terfokus pada pengaplikasian bahan baku tekstil tersebut ke dalam produk-produk kriya dan pelatihan kepada masyarakat setempat. Diharapkan pemanfaatan limbah sabut kelapa ini akan berdampak pada pemberdayaan ekonomi masyarakat.</span></p>
<ul>
<li><a title="jid-vol2-no1.pdf" href="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/01/jid-vol2-no1.pdf" target="_blank">jid-vol2-no1.pdf</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnaldesain.fsrd.itb.ac.id/?feed=rss2&amp;p=8</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>JID Vol 1 No. 3, 2006</title>
		<link>http://jurnaldesain.fsrd.itb.ac.id/?p=7</link>
		<comments>http://jurnaldesain.fsrd.itb.ac.id/?p=7#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Nov 2006 02:40:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel Isi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indo.jurnaldesain-itb.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[
A. D. PIROUS
Sejarah Poster Sebagai Alat Propaganda Perjuangan di Indonesia. (Hal. 139 - 158).
 
Ringkasan 
 Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan sejarah, dengan mengulas peran poster sebagai media propaganda di masa perjuangan revolusi Indonesia 1945-1948. Data-data yang diperoleh di artikel ini merupakan data primer melalui wawancara langsung dengan tokoh-tokoh sejarah seni rupa Indonesia waktu itu, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><a href="http://indo.jurnaldesain-itb.com/wp-content/uploads/2008/01/cover-web.jpg" target="_blank" title="cover-web.jpg"><img src="http://indo.jurnaldesain-itb.com/wp-content/uploads/2008/01/cover-web.jpg" alt="cover-web.jpg" height="313" width="220" /></a><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">A. D. PIROUS</span></strong><br />
<em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Sejarah Poster Sebagai Alat Propaganda Perjuangan di Indonesia. (Hal. 139 - 158).<o:p></o:p></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial"><o:p> </o:p></span></p>
<p align="left"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Ringkasan</span></strong> <a href="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/02/adpirous.jpg" title="adpirous.jpg"><img src="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/02/adpirous.jpg" alt="adpirous.jpg" align="right" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify" align="left"> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan sejarah, dengan mengulas peran poster sebagai media propaganda di masa perjuangan revolusi <st1:country-region w:st="on"><st1:place w:st="on">Indonesia</st1:place></st1:country-region> 1945-1948. Data-data yang diperoleh di artikel ini merupakan data primer melalui wawancara langsung dengan tokoh-tokoh sejarah seni rupa <st1:country-region w:st="on"><st1:place w:st="on">Indonesia</st1:place></st1:country-region> waktu itu, yaitu: Affandi, S. Sudjojono, Surono, dan Srihadi Soedarsono. Dari analisis yang dilakukan, bisa disimpulkan bahwa desain poster perjuangan memiliki dua fungsi penting: (1) Sebagai penyampai pesan bagi masyarakat internasional tentang realitas perjuangan; (2) Sebagai penyampai aspirasi politik masyarakat di dalam negeri. Melalui artikel ini ditunjukkan bahwa bidang seni rupa dan desain memberi peran penting dalam revolusi kemerdekaan <st1:country-region w:st="on"><st1:place w:st="on">Indonesia</st1:place></st1:country-region>. Sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan di <st1:country-region w:st="on"><st1:place w:st="on">Indonesia</st1:place></st1:country-region> tidak lepas dari peran poster perjuangan oleh para tokoh-tokoh seniman besar yang peduli terhadap nasib bangsanya.<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">PRIYANTO SUNARTO</span></strong><br />
<em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Metafora Visual Kartun Editorial Pada Surat Kabar Jakarta 1950-1957. </span></em><em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">(Hal. 159 - 176).</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Ringkasan</span></strong> <a href="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/02/5.jpg" title="5.jpg"><img src="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/02/5.jpg" alt="5.jpg" align="right" height="206" width="421" /></a><br />
<span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Kartun editorial adalah kolom kartun yang muncul secara berkala<span>  </span>di halaman yang tetap di suatu <st1:place w:st="on"><st1:city w:st="on">surat</st1:city></st1:place> kabar. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami latar belakang sosial politik dan budaya masyarakat terhadap penampilan visual kartun editorial di masa demokrasi parlementer di Indonesia (1950-1957). Tujuannya untuk memahami bagaimana metafora kartun editorial berelasi dengan situasi politik multi partai dan tingginya kebebasan menyatakan pendapat. Pendekatan yang ditempuh dalam riset ini adalah pendekatan tipologi visual. Melalui penguraian konsep kartun editorial pada masa itu, penelitian juga menganalisis aspek metafora visual dari 344 artifak kartun<span>  </span>oleh 7 <st1:city w:st="on">surat</st1:city> kabar di <st1:place w:st="on"><st1:city w:st="on">Jakarta</st1:city></st1:place>. Dari analisis dapat disimpulkan bahwa metafora visual kartun editorial masa itu disampaikan dengan sikap emotif sangat<span>  </span>terbuka dan tajam.<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">DWINITA LARASATI</span></strong><br />
<em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Uncovering The Bamboo of <st1:place w:st="on"><st1:country-region w:st="on">Indonesia. </st1:country-region></st1:place></span></em><em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">(Hal. 177 - 190).</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">RINGKASAN</span></strong><br />
<span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Dalam penelitian ini diulas tiga faktor utama yang dapat meningkatkan pendayagunaan bambu, sebagai berikut: kontribusi teknologi maju bagi peningkatan kualitas material bambu; pendaya-gunaan sumber daya manusia (SDM) melalui penerapan teknologi tepat guna; dan inovasi desain bagi produk bambu fungsional yang dapat menjangkau pangsa pasar potensial yang lebih luas. Tinjauan terhadap situasi masa kini mengarah ke analisa faktor perlunya beberapa perubahan dalam metoda penyediaan bahan <st1:city w:st="on"><st1:place w:st="on">baku</st1:place></st1:city>, produksi dan distribusi, dan penggunaan material dan desain produk bambu. Artikel ini adalah bagian pertama dari dua seri artikel. Bagian pertama ini membahas industri bambu di masa lalu dan masa kini; sedangkan bagian keduanya lebih terfokus kepada sebuah kasus desain dan memberikan rekomendasi pemakaian bambu di masa mendatang sebagai salah satu bahan <st1:city w:st="on"><st1:place w:st="on">baku</st1:place></st1:city> produk industri.<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">ELLYA ZULAIKHA</span></strong><br />
<em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Diversifikasi Desain untuk Pengembangan Industri Kerajinan Manik-manik Kayu. </span></em><em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">(Hal. 191 - 202).</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Ringkasan</span></strong><a href="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/02/15a4.jpg" title="15a4.jpg"><img src="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/02/15a4.jpg" alt="15a4.jpg" align="right" height="295" width="210" /></a><br />
<span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Industri tasbih dari bahan manik-manik kayu di Kediri adalah industri yang sangat potensial untuk dikembangkan, mengingat jenis kayu yang digunakan seperti Garu, Stigi, Sono, Cendana dan Secang adalah kayu kualitas unggul khas Asia yang telah terbukti keawetan, keunikan tekstur dan kekuatannya. Namun demikian, desain produk yang dihasilkan industri ini cenderung itu-itu saja,<span>  </span>hanya menjadi tasbih saja, sehingga tidak ada peningkatan produktivitas dan peningkatan nilai jual produk. Penulis mencoba mendiversifikasi dan mengembangkannya menjadi desain benda pakai sederhana lainnya, misalnya: tas, wadah kayu, dan lain-lain. Awal pengembangan industri ini adalah dengan menggunakan analisis SWOT.Selanjutnya adalah dengan melakukan eksperimentasi karakteristik tiap jenis manik-manik. Berikutnya, dilakukan eksperimen kombinasi manik-manik dengan teknik anyam tertentu,<span>  </span>hingga sampai pada pembuatan prototype sebagai acuan pelatihan bagi para pengrajin lokal.<span>  </span>Hasil dari pengembangan desain ini bisa meningkatkan daya jual sebesar 150-200% dibanding nilai sebelumnya.<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">DENY WILLY &amp; G. PRASETYO ADHITAMA</span></strong><br />
<em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Pemanfaatan Dahan Salak untuk Produk Pelengkap Interior. </span></em><em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">(Hal. 203 - 212).</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial"><o:p> </o:p></span></p>
<p align="left"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Ringkasan </span></strong><a href="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/02/6.jpg" title="6.jpg"><img src="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/02/6.jpg" alt="6.jpg" align="right" height="238" width="311" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Jatuhnya harga buah salak Manonjaya empat tahun terakhir mendorong masyarakat menebangi 7000 hektar perkebunan rakyat dan menggantinya dengan tanaman lain yang dianggap lebih memiliki nilai ekonomi, seperti: pisang, singkong, talas dan sebagainya. Untuk menghindari ancaman erosi serius dan menjaga pelestarian, maka tim peneliti ini, bekerjasama dengan masyarakat setempat, organisasi kemasyarakatan serta pihak pemerintah terkait melaksanakan suatu penelitian berupa upaya pemanfaatan alternatif dahan salak. Dahan salak merupakan potensi perkebunan salak yang berlimpah dan belum termanfaatkan secara optimal. Kegiatan ini sekaligus bertujuan untuk merintis pembentukan wirausaha baru di Tasikmalaya, Jawa Barat. Kini telah telah terbentuk satu usaha inti yang menyerap lebih dari 50 orang penduduk sebagai pemasok bahan <st1:city w:st="on"><st1:place w:st="on">baku</st1:place></st1:city> bilah dahan salak. Kegiatan penelitian ini juga sekaligus menyadarkan masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian perkebunan. Saat ini, produk kerajinan bilah dahan salak mulai berdampak terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat.<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial"><o:p> </o:p></span></p>
<ul>
<li><a href="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/01/jid-vol1-no3.pdf" target="_blank" title="jid-vol1-no3.pdf">jid-vol1-no3.pdf</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnaldesain.fsrd.itb.ac.id/?feed=rss2&amp;p=7</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>JID Vol 1 No. 2, 2006</title>
		<link>http://jurnaldesain.fsrd.itb.ac.id/?p=6</link>
		<comments>http://jurnaldesain.fsrd.itb.ac.id/?p=6#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Aug 2006 02:38:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel Isi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indo.jurnaldesain-itb.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[

YUSWADI SALIYA
Pendekatan Interdisiplin dalam Desain: Suatu Penjelajahan Awal. (Hal. 75 - 88)
 
Ringkasan 
Desain sebagai kegiatan interdisiplin bisa didekati dari berbagai sudut. Secara umum, tulisan ini menelusuri iterasi sejarah untuk mengamati kecenderungan baru, seperti fenomena gerakan renaisan dan pencerahan di Eropa (Barat) beserta dampak paradigmatik sosial-budayanya terhadap pemahaman ranah desain, atau seperti kebangkitan kembali akan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="jid_1-2001002.jpg" href="http://english.jurnaldesain-itb.com/wp-content/uploads/2008/01/jid_1-2001002.jpg"><img src="http://english.jurnaldesain-itb.com/wp-content/uploads/2008/01/jid_1-2001002.jpg" alt="jid_1-2001002.jpg" width="220" height="312" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">YUSWADI SALIYA</span></strong><br />
<em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Pendekatan Interdisiplin dalam Desain: Suatu Penjelajahan Awal. </span></em><em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">(Hal. 75 - 88)</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Ringkasan </span></strong><a title="21.jpg" href="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/02/21.jpg"><img src="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/02/21.jpg" alt="21.jpg" width="221" height="215" align="right" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Desain sebagai kegiatan interdisiplin bisa didekati dari berbagai sudut. Secara umum, tulisan ini menelusuri iterasi sejarah untuk mengamati kecenderungan baru, seperti fenomena gerakan renaisan dan pencerahan di Eropa (Barat) beserta dampak paradigmatik sosial-budayanya terhadap pemahaman ranah desain, atau seperti kebangkitan kembali akan kesadaran tubuh dan pengalaman pragmatik sehari-hari. Secara khusus, tulisan ini juga menyoroti gagasan simbiosis Kurokawa dari Jepang yang mencerminkan pendekatan ketimuran bersandingan dengan gagasan adaptasi (Piaget/Norberg-Schulz) sebagai landasan desain yang baru. Cara-untuk-tahu secara desain, sebagai budaya ketiga (Cross), diketengahkan sebagai pembanding terhadap kecenderungan dikotomik-hegemonik modernis yang dipandang bermasalah. Gagasan Richard Buchanan diajukan sebagai excursus, untuk membaca kategorisasi dalam wacana desain secara interdisipliner. Penjelajahan awal ini diakhiri secara terbuka dengan mengemukakan berbagai kemungkinan dalam bentuk amsal sesudah terbebasnya kembali berbagai variabel dalam desain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">JAKOB SUMARDJO</span></strong><br />
<em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Konsep Halus dan Kosong Dalam Seni. </span></em><em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">(Hal. 89 - 102)</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Ringkasan</span></strong></p>
<p align="left"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Di dalam tulisan ini dibahas tentang pengertian seni. Seni menyangkut segala sesuatu yang memiliki nilai halus, kecil, lembut, dan bertolak dari patokan dasar: penguasaan ketrampilan dan pemahaman filsafat. Sebab nilai seni mencakup tiga kategori, yakni: nilai logika (benar/salah), etika (baik/jahat) dan estetika (indah/buruk). Di dalam seni tradisi etnik Indonesia ketiganya ini menyatu. Untuk memahaminya, kita memerlukan pembedaan tingkatan pengetahuan: (1) tingkat kawruh (pengetahuan hidup sehari-hari), (2) tingkat ngelmu (pengetahuan halus, spiritual, paradoksal) dan (3) tingkat kasunyatan (pengetahuan sempurna, yang tunggal). Inilah yang menjadikan estetika tradisional Indonesia penuh dengan pasangan paradoksal namun mengarah ke yang tunggal. Estetika ini mendasari makna artefak budayanya; pasangan paradoksal (misal: laki-perempuan, langit-bumi) memiliki tujuan untuk mengingatkan kita akan pentingnya harmoni dalam kehidupan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">JULY HIDAYAT</span></strong><br />
<em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Kode Ganda Dalam Desain Interior Kontemporer: Suatu Kajian Poskolonial. </span></em><em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">(Hal. 103 - 114).</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"> </span></p>
<p align="left"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Ringkasan </span></strong></p>
<p align="left"><a title="8.jpg" href="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/02/8.jpg"><img src="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/02/8.jpg" alt="8.jpg" width="223" height="160" align="right" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Di kota-kota besar di Indonesia, khususnya Jawa dan Bali, dicermati adanya fenomena desain interior eklektik yang menghadirkan kode ganda, yaitu kode budaya Barat dan Timur secara bersama-sama. Dalam hal ini kode budaya Barat diwakili oleh idiom-idiom visual gaya klasik dan gaya modern, sedangkan kode gaya Timur diwakili oleh gaya etnik atau tradisional Indonesia. Dalam kajian ini, kasus interior kode ganda dikaji melalui teori poskolonial, karena dalam teori ini, eklektisisme, sebagai ideologi desain, merupakan upaya konseptual untuk memperjuangkan identitas budaya lokal di tengah dominasi budaya global. Selain itu eklektisisme adalah untuk merepresentasikan egalitas antara budaya Barat dan Timur. Penelitian ini bertujuan untuk: (a) memahami pengertian kode ganda dalam wacana desain poskolonial, (b) menawarkan suatu pemahaman atas pola penerapan eklektisisme di Indonesia, dan (c) mengupas kode ganda melalui klasifikasi sintaksis dan semantik ideologis. Hasilnya, di dalam klasifikasi sintaksis, terdapat pola adopsi, adaptasi, maupun adeptasi, serta bahasa estetik pastische, parodi, kitsch dan skizoprenia. 1. Desain dan Studi Poskolonial Definisi desain poskolonial adalah kombinasi elemen-elemen desain yang mempergunakan kode ganda, di mana di dalamnya terjadi transposisi (saling intervensi dan saling silang) kode-kode oposisi biner dalam berbagai bentuk kombinasi, sebagai representasi politik, sosial, budaya bangsa, bahkan antar pribadi yang mengalami imperialisme budaya secara langsung atau tidak langsung. Kajian ini mempergunakan kombinasi metode kritisisme poskolonial, semiotika dan studi banding terhadap kasus-kasus yang ada. Semiotika dipergunakan karena fokus kajiannya adalah pada masalah kode. Tujuan kajiannya adalah untuk mengenali tipe-tipe atau model-model relasi yang membentuk kode ganda, baik dari segi sintaksis maupun segi semantik ideologis. Studi poskolonial pada dasarnya bukan merupakan studi yang berkaitan dengan wacana kolonialisasi di tingkat fisik ataupun peristiwa setelah kolonialisme, tetapi lebih merupakan studi yang berkaitan dengan perjuangan identitas budaya dan hegemoni di tingkat representasi. Tingkat representasi ini sangat terkait dengan apa yang yang ditampakkan oleh karya-karya desain dalam perkembangannya kini. Dalam perkembangan desain interior kontemporer di kota-kota besar di Indonesia, terutama Jakarta, terdapat kecenderungan untuk menghadirkan ruang-ruang interior eklektik, yaitu interior bergaya campuran modern dan tradisional (dari segi waktu), atau antara gaya interior yang berasal dari budaya Barat dengan budaya Timur (dari segi ruang).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Seruni Kusumawardhani</span></strong><br />
<em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Vernakularisme pada Desain Perangkat Jual Pedagang Makanan Keliling di Bandung. </span></em><em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">(Hal. 115 - 126).</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"> </span></p>
<p align="left"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Ringkasan</span></strong> <a title="serunitabel-1.jpg" href="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/02/serunitabel-1.jpg"><img src="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/02/serunitabel-1.jpg" alt="serunitabel-1.jpg" width="213" height="181" align="right" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify" align="left"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Penelitian ini menjelaskan vernakularisme pada perangkat jual Ped</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">agang Makanan Keliling (PMK) di Bandung secara deskriptif analitis. Kehadiran PMK merupakan keniscayaan yang terjadi di setiap masyarakat urban di Indonesia. Penelitian dimulai dari pemikiran dan tujuan peningkatan mutu desain perangkat jual PMK agar meningkatan mutu makanan yang dijual. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan sosio-budaya dengan metode etnografi. Metode ini bertolak dari teori-teori tentang vernakularisme dalam desain dan masyarakat urban. Pertama adalah dengan melalui observasi untuk menentukan rumusan masalah penelitian. Kedua adalah menganalisis vernakularisme, konsep dan karakteristik nya, pada perangkat jual PMK melalui teori komplektsitas fungsi. Melalui analisis yang dilakukan, dapatlah disimpulkan bahwa desain perangkat jual PMK, walau tidak terdesain secara khusus dan hanya menggunakan konstruksi sederhana, namun sebenarnya adaptif terhadap perkembangan teknologi dan terus mengalami perbaikan dalam konteks ruang dan waktu.</span></p>
<p align="left">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify" align="left"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"> </span></p>
<p align="left">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify" align="left"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Donnie B. Wijaksana, Achmad Haldani, Dudy Wiyancoko</span></strong><br />
<em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Pemanfaatan Sampah Alumunium Untuk Pengembangan Desain Produk. </span></em><em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">(Hal. 127 - 138)</span></em></p>
<p align="left">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify" align="left"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"> </span></p>
<p align="left">
<p align="left"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Ringkasan </span></strong><a title="10a.jpg" href="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/02/10a.jpg"><img src="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/02/10a.jpg" alt="10a.jpg" width="153" height="225" align="right" /></a></p>
<p align="left">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify" align="left"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Aluminium adalah salah satu material yang sering digunakan oleh masyarakat, karena karakteristiknya yang ringan, kuat, mudah diproses dan tahan korosi. Besarnya tingkat penggunaan aluminium menyebabkan besar pula jumlah polutan berupa sampah dan limbah aluminium. Penggunaan material sampah aluminium dengan cara daur ulang merupakan salah satu cara yang efektif untuk menghindari polusi lingkungan. Riset ini memuat proses eksperimentasi pada sampah aluminium yang terbagi ke dalam beberapa tahap, yaitu: (a) Eksplorasi bentuk dengan teknik pengecoran; (b) Eksplorasi perubahan suhu; (c) Eksplorasi kimia untuk mendapatkan kemungkinan bentuk baru akibat reaksi kimiawi; (d) Eksplorasi penggabungan limbah aluminium dengan material lain; dan (e)<span> </span>ksplorasi penggabungan hasil cetakan aluminium. Hasilnya, kombinasi limbah aluminium dan limbah gelas merupakan bahan potensial untuk membuat beragam produk dengan fungsi sederhana, misalnya: perangkat makan dan aksesori busana. Hasil ini dapat menjadi acuan diversifikasi bagi industri kecil-menengah di bidang scrap aluminium.</span></p>
<ul>
<li><a title="jid-vol1-no2.pdf" href="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/01/jid-vol1-no2.pdf" target="_blank">jid-vol1-no2.pdf</a></li>
<li>jurnal-ilmu-desain-vol1-no2.pdf</li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"> </span></p>
<p><em></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnaldesain.fsrd.itb.ac.id/?feed=rss2&amp;p=6</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>JID Vol 1 No. 1, 2006</title>
		<link>http://jurnaldesain.fsrd.itb.ac.id/?p=5</link>
		<comments>http://jurnaldesain.fsrd.itb.ac.id/?p=5#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Mar 2006 02:37:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel Isi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indo.jurnaldesain-itb.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[
WIDAGDO
Estetika Dalam Perjalanan Sejarah:  Arti dan Peranannya dalam Desain. (Hal. 3 - 16).
 
Ringkasan  
 Desain selalu mengacu pada estetika. Ia tidak semata berkenaan dengan persepsi visual-fisikal saja, namun mencakup konsep yang abstrak, yakni: yang benar, teratur, dan berguna. Tulisan ini memaparkan bahwa estetika memiliki watak transendental, keberaturan, dan pragmatik. Estetika memperoleh tantangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><a href="http://indo.jurnaldesain-itb.com/wp-content/uploads/2008/01/foto3.jpg" target="_blank" title="foto3.jpg"><img src="http://indo.jurnaldesain-itb.com/wp-content/uploads/2008/01/foto3.jpg" alt="foto3.jpg" height="325" width="220" /></a><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">WIDAGDO</span></strong><br />
<em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Estetika Dalam Perjalanan Sejarah:  Arti dan Peranannya dalam Desain. (Hal. 3 - 16).<o:p></o:p></span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial"> <o:p></o:p></span></p>
<p align="left"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Ringkasan  </span></strong><a href="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/02/1.jpg" title="1.jpg"><img src="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/02/1.jpg" alt="1.jpg" align="right" height="283" width="177" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify" align="left"> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Desain selalu mengacu pada estetika. Ia tidak semata berkenaan dengan persepsi visual-fisikal saja, namun mencakup konsep yang abstrak, yakni: yang benar, teratur, dan berguna. Tulisan ini memaparkan bahwa estetika memiliki watak transendental, keberaturan, dan pragmatik. Estetika memperoleh tantangan ketika modernisme memilah antara “kegunaan” dan “estetik”, sebagaimana antara desain dan seni. Selanjutnya posmodern juga melepas estetika, dari persepsi tentang keindahan menuju pada pluralisme makna. Oleh karena itu pendidikan desain di <st1:country-region w:st="on"><st1:place w:st="on">Indonesia</st1:place></st1:country-region> harus memperjuangkan kembali metoda dasar yang digagaskan para pemikir dunia ribuan tahun lalu. Desainer, khususnya desainer interior, hendaknya memperjuangkan kebenaran estetik, sebab “desain adalah suatu kearifan yang ditampakkan”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">IMAM BUCHORI ZAINUDDIN</span></strong><br />
<em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Desain, Sains Desain dan Sains tentang Desain: Telaah Filsafat Ilmu.</span></em><em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial"> (Hal. 17 - 34).</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial"><o:p> </o:p></span></p>
<p align="left"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Ringkasan  </span></strong><a href="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/02/22.jpg" title="22.jpg"><img src="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/02/22.jpg" alt="22.jpg" align="right" height="116" width="176" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify" align="left"> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Desain mengalami perkembangan makna, tidak lagi suatu kegiatan menggambar, melainkan kegiatan ilmiah. Memang masih terdapat polemik antara desain sebagai kegiatan enjinering ataukah sebagai kegiatan intuitif, namun yang ditekankan adalah desain sesungguhnya berurusan dengan nilai-nilai. Ia relatif terhadap acuan nilai yang dianut oleh pengambil keputusan. Oleh karena itu, desain akan terus berkembang dengan dua pendekatan, yakni: engineering dan humanities. Tulisan ini merunut perkembangan filsafat ilmu yang melatari lahirnya sains desain sekaligus membuktikannya bahwa desain, baik konsep, teori maupun konfigurasi artefaknya, selalu bersifat kontekstual.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">KIYOSHI <st1:city w:st="on"><st1:place w:st="on">MIYAZAKI</st1:place></st1:city>; DUDY WIYANCOKO<o:p></o:p></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Perkembangan Pendidikan Desain dan Ilmu Desain di Jepang. (hlm. 35-48)<o:p></o:p></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Ringkasan</span></strong><a href="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/02/4.jpg" title="4.jpg"><img src="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/02/4.jpg" alt="4.jpg" align="right" height="246" width="219" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify" align="left"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Modernisme Jepang mengartikan hasil desain sebagai benda pakai. Pendidikan desain selanjutnya menggeser arti desain sebagai sistem yang menghasilkan kegunaan. Menghadapi tantangan masa depan, pendidikan tinggi desain perlu peduli terhadap dunia pembuatan artefak (monozukuri). Pertama, mensinergikan desain sebagai entitas visual kreatif dengan bidang-bidang enjiniring dan ilmu kemanusiaan. Kedua, mempopulerkan kuliah desain nyata, dan program kemitraan dengan industri. Ketiga, merintis program pasca-sarjana desain pola terbuka, dan keempat, mengenalkan ilmu desain sejak sekolah dasar. Ilmu desain nantinya akan terbagi menajam menjadi berbagai keahlian, yakni: desain dan kebudayaan, desain produk, desain komunikasi visual, desain lingkungan, desain dan material, dan seterusnya.<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">INDRA NURHADI, WIRANTO ARISMUNANDAR, DJOKO SUHARTO, FARID R. MULYA.<o:p></o:p></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Mechanical Engineering dalam Perspektif Desain sebagai Ilmu. (hlm. 49-62).<o:p></o:p></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Ringkasan</span></strong><a href="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/02/51.jpg" title="51.jpg"><img src="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/02/51.jpg" alt="51.jpg" align="right" height="224" width="150" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify" align="left"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Bila kegiatan desain dipahami sebagai kegiatan mencari solusi suatu kebutuhan, maka dapat dikatakan bahwa bidang keahlian desain tersebar di berbagai departmen di ITB. Dalam rangka menyamakan persepsi dan mengkaji gagasan keserumpunan desain, makalah ini ditulis untuk mengenalkan hal-hal khusus tentang “mechanical engineering design”. Contoh mewakili desain yang berciri ”murni” mesin dan desain yang memerlukan keahlian multi-disiplin yang dapat digunakan sebagai sarana untuk mengkaji kontribusi dari masing-masing bidang keahlian. Untuk me-nyamakan persepsi keserumpunan, mem-bangun komunikasi dan sinergi disampaikan matriks kompetensi yang menyatakan kontri-busi berbagai disiplin dalam suatu desain dengan permasalahan yang semakin rumit.<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">YASRAF AMIR PILIANG<o:p></o:p></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Pluralitas Bahasa Rupa: Membaca Pemikiran Primadi Tabrani. (hlm. 63-74).<o:p></o:p></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Ringkasan<o:p></o:p></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify" align="left"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Bahasa rupa (visual language) dipahami secara berbeda-beda oleh para ilmuwan. Bahasa rupa yang digagaskan oleh Primadi Tabrani, Guru Besar FSRD-ITB, memiliki arti khusus, yakni bahasa tentang rupa, tentang aspek bercerita gambar-gambar prasejarah maupun gambar anak-anak. Teori ini berbeda dengan bahasa rupa dalam kajian semiotika. Namun, terdapat persinggungan dalam persoalan bercerita dan denotasi di semiotika. Terdapat pula aspek khusus yang dikaji oleh Primadi, namun tidak dikaji di semiotika, yaitu cara penggambaran dan bercerita secara denotatif. Kedua hal ini telah dilupakan di dalam kajian rupa di <st1:country-region w:st="on"><st1:place w:st="on">Indonesia</st1:place></st1:country-region> maupun di Barat yang lebih mengutamakan kajian tingkat konotatif. Oleh karena itu kajian Primadi telah berkontribusi besar bagi kajian semiotika visual secara luas.<o:p></o:p></span></p>
<ul>
<li><a href="http://indo.jurnaldesain-itb.com/jurnaldesain-itb.com/uploads/2008/01/jid-vol1-no1.pdf" target="_blank" title="jid-vol1-no1.pdf">jid-vol1-no1.pdf</a></li>
<li>jid-fsrd-itb-vol1-no1-2006.pdf</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnaldesain.fsrd.itb.ac.id/?feed=rss2&amp;p=5</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
